Baitul Arqam PCM Weru, Dr. Yayan Suryana Tegaskan Paham Agama dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah
Kegiatan Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh MPK-SDI PCM Weru berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) Kalisige pada Sabtu, 31 Januari 2026, untuk penguatan pemahaman keislaman dan arah berpikir bermuhammadiyah bagi para peserta.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Yayan Suryana, M.Ag., Wakil Ketua PWM Yogyakarta, hadir sebagai pemateri dengan menyampaikan materi bertema Paham Agama dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah, berikut ini adalah ringkasan dari apa yang beliau sampaikan.
![]() |
| Dr. Yayan Suryana sampaikan tentang Paham Agama dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah |
Islam dipahami, ditafsirkan, dan diaktualisasikan melalui pola, pendekatan, serta metode yang beragam. Karena itu, hasil pemahamannya pun bisa berbeda-beda. Muhammadiyah memiliki manhaj dan cara berpikir sendiri, namun tidak berarti menafikan pemikiran pihak lain. Inilah bekal bermuhammadiyah yang terbuka dan berkemajuan.
Dalam bermuhammadiyah, kita memang mengembangkan pemahaman keagamaan sesuai tujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Namun, fokus itu tidak perlu disertai dengan kesibukan mengurusi atau menyalahkan pemahaman orang lain.
Untuk memahami agama sesuai dengan perspektif Muhammadiyah, kita perlu kembali belajar dari pemikiran para tokoh dan pendiri Muhammadiyah. Bukan untuk mengultuskan mereka, melainkan agar kita memahami secara jernih tujuan dan ruh gerakan Muhammadiyah itu sendiri.
Selain itu juga bisa memahami akar dengan mempelajari dokumen-dokumen resmi Muhammadiyah seperti AD/ART Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), Kepribadian Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, dan lainnya.
Bermuhammadiyah tidak dijalani secara sendiri-sendiri, melainkan dalam bingkai struktur dan tata kelola organisasi yang rapi agar tujuan bersama dapat terwujud. Sebab, cita-cita besar tidak mungkin dicapai dengan langkah individual semata.
Bisa kita ibaratkan, ketika kita ingin membersihkan halaman, maka satu lidi tidak akan berarti apa-apa jika berdiri sendiri, tetapi ketika disatukan menjadi sapu, ia memiliki daya dan manfaat yang nyata. Seperti itulah berorganisasi di persyarikatan.
Prinsip dasar paham agama Muhammadiyah bertumpu pada tauhid yang murni, berlandaskan kembali kepada Al-Qur’an dan sunah, serta mengedepankan ijtihad dan tajdid sebagai upaya memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara dinamis dan berkemajuan.
Muhammadiyah menghidupkan ijtihad dan tajdid sebagai sarana menghadapi tantangan zaman sekaligus untuk menghindari sikap taklid dalam beragama.
Tajdid merupakan ikhtiar menuju kemajuan, yakni upaya memperbarui pemahaman dan praktik keagamaan agar tetap berlandaskan ajaran Islam yang murni serta relevan dengan dinamika perkembangan zaman.
Dalam penerapannya, tajdid di Muhammadiyah mengandung dua makna utama, yaitu pemurnian dalam aspek ibadah dan pembaruan dalam bidang muamalah agar sejalan dengan tuntutan dan perubahan zaman.
Islam berkemajuan dalam aktualisasi paham agama Muhammadiyah adalah Islam yang ramah, nyaman, damai, menyejukkan, dan mencerahkan. Ia hadir secara dinamis, mampu menyerap serta merespons berbagai persoalan keumatan dengan sikap terbuka dan solutif.
Islam dalam Muhammadiyah berfungsi memotivasi dan memberi jalan keluar, bukan menyelesaikan masalah dengan menimbulkan masalah baru. Karena itu, Islam berkemajuan mendorong umat untuk bersikap kreatif, inovatif, dan berorientasi ke masa depan.
Get notifications from this blog

Silakan berkomentar dengan sopan sebagai ajang silaturahmi sesama kita.